BentangNews – Bagi sebagian orang, anggang-anggang mungkin hanya dianggap serangga kecil yang meluncur di atas permukaan kolam atau sawah. Padahal, di balik gerakannya yang lincah, hewan ini menyimpan kemampuan ilmiah yang luar biasa dan peran penting bagi ekosistem.
Dalam dunia sains, anggang-anggang dikenal sebagai Gerridae atau yang populer disebut water striders. Serangga ini sering dijumpai di genangan air tenang seperti kolam, danau, hingga persawahan.
Bisa “Berjalan” di Atas Air, Bagaimana Caranya?
Fenomena anggang-anggang yang seolah bisa berjalan di atas air bukanlah sihir. Rahasianya ada pada hukum fisika bernama tegangan permukaan air.
Kaki anggang-anggang memiliki ribuan rambut halus mikroskopis yang bersifat hidrofobik (menolak air). Struktur ini membuat berat tubuhnya tersebar merata dan tidak menembus permukaan air. Hasilnya, mereka bisa meluncur dengan gesit tanpa tenggelam.
Predator Kecil yang Efisien
Meski tampak ringan dan tak berbahaya, anggang-anggang merupakan predator. Mereka memakan serangga kecil yang jatuh ke permukaan air, seperti nyamuk atau lalat.
Dengan kaki panjangnya, anggang-anggang mendeteksi getaran di permukaan air. Begitu ada mangsa yang terjebak, mereka langsung meluncur cepat, menusukkan alat mulutnya, dan mengisap cairan tubuh mangsa.
Peran ini membuat anggang-anggang membantu mengendalikan populasi serangga, termasuk hama dan nyamuk.
Tidak Banyak yang Tahu, Ini Fakta Menariknya
Ada beberapa fakta unik tentang anggang-anggang yang jarang diketahui masyarakat:
- Punya Sensor Getaran Super Sensitif
Mereka bisa membedakan getaran akibat mangsa, ancaman, atau bahkan sesama anggang-anggang. - Mampu Melompat di Atas Air
Selain meluncur, anggang-anggang juga bisa meloncat untuk menghindari predator. - Hidup Berkelompok
Di beberapa perairan, anggang-anggang sering terlihat bergerombol. Hal ini membantu mereka mendeteksi ancaman lebih cepat. - Ada yang Hidup di Laut
Tidak semua anggang-anggang hidup di air tawar. Beberapa spesies dari genus Halobates bahkan hidup di lautan terbuka—fenomena langka untuk serangga.
Indikator Kesehatan Lingkungan
Kehadiran anggang-anggang juga bisa menjadi indikator kualitas air. Mereka umumnya hidup di perairan yang relatif bersih dan tenang. Jika populasinya menurun drastis, bisa jadi terjadi pencemaran atau perubahan ekosistem.
Menurut penelitian K. Putra Juliantara dan I Gusti Putu Agus Ferry Sutrisna Putra, yang menekuni Program Studi Teknologi Laboratorium Medik, IIK Medika Persada Bali pada 2017 lalu, membeberkan bahwa anggang-anggang bisa dijadikan bioindikator kualitas air dikarenakan serangga kecil ini tidak bisa hidup di perairan yang sudah tercemar. Baik itu di air sungai, kolam, danau, dan air laut.
Ahmad Suryanto, seorang petani di Brebes, mengaku sering melihat anggang-anggang di sawahnya.
“Kalau air sawah lagi bersih dan tenang, pasti banyak anggang-anggang. Tapi kalau habis tercampur limbah atau pupuk berlebihan, biasanya jarang kelihatan,” katanya.
Inspirasi Teknologi Modern
Kemampuan anggang-anggang menahan berat di atas air telah diteliti dalam berbagai riset biomimetik—bidang yang meniru desain alami untuk teknologi modern. Struktur kaki mereka bahkan menjadi model dalam pembuatan material anti-air dan robot mikro.
Di tengah perkembangan teknologi yang serba canggih, ternyata alam telah lebih dulu menciptakan desain yang efisien.
Serangga Kecil, Peran Besar
Anggang-anggang mungkin tidak sepopuler kupu-kupu atau lebah. Namun, serangga ini membuktikan bahwa makhluk kecil pun punya kontribusi besar bagi keseimbangan ekosistem dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Jadi, lain kali ketika melihat serangga kecil meluncur anggun di atas kolam, jangan buru-buru mengusirnya. Bisa jadi, Anda sedang menyaksikan salah satu keajaiban fisika yang hidup. (*)



Komentar