BentangNews – Ketegangan antara netizen Korea Selatan dan warganet Asia Tenggara memanas dalam beberapa pekan terakhir. Perseteruan yang terjadi di media sosial itu bahkan disebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar bagi industri hiburan dan pariwisata Negeri Ginseng.
Konflik digital ini bermula dari insiden konser band K-pop DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia, yang kemudian memicu saling serang komentar bernada rasis di ruang digital lintas negara.
Ketegangan tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintah Korea Selatan, termasuk Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang disebut mulai memantau dampaknya terhadap citra nasional dan sektor ekonomi kreatif.
Awal Mula Konflik di Konser Kuala Lumpur
Perseteruan bermula saat konser DAY6 di Axiata Arena, Kuala Lumpur, pada akhir Januari 2026. Sejumlah penggemar asal Korea Selatan dilaporkan melanggar aturan konser dengan membawa kamera profesional, sehingga memicu protes penonton lokal.
Perdebatan di media sosial kemudian berkembang menjadi konflik terbuka antara netizen Korea Selatan dan warganet Asia Tenggara.
Beberapa akun dituding melontarkan komentar merendahkan terkait kondisi ekonomi, warna kulit, hingga stereotip masyarakat Asia Tenggara. Respons keras pun muncul dari netizen Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Warganet Asia Tenggara kemudian membentuk solidaritas digital dengan sebutan SEAblings (Southeast Asia Siblings) sebagai simbol perlawanan terhadap dugaan rasisme tersebut.
Komentar Netizen Memanaskan Situasi
Perang komentar di platform media sosial seperti X dan TikTok memperlihatkan eskalasi konflik yang semakin panas.
Seorang netizen Asia Tenggara menulis:
“Kami mungkin dari negara berkembang, tapi kami punya harga diri. Jangan merendahkan Asia Tenggara hanya karena ekonomi.”
Komentar lain yang viral menyatakan:
“Kalau tanpa fans Asia Tenggara, industri K-pop tidak akan sebesar sekarang. Hargai penggemar global.”
Di sisi lain, beberapa akun yang diduga berasal dari Korea Selatan juga melontarkan komentar kontroversial, seperti:
“Standar konser di Asia Tenggara berbeda dengan Korea.”
Pernyataan tersebut langsung menuai kritik luas dan memicu ribuan balasan bernada protes dari warganet kawasan ASEAN.
Sebagian netizen Indonesia juga ikut bersuara melalui kampanye boikot hiburan Korea.
“Stop dukung konten yang tidak menghargai fans Asia Tenggara. Banyak pilihan hiburan lain.”
Namun, ada pula netizen yang menyerukan perdamaian dan meminta konflik dihentikan.
“Ini hanya kesalahpahaman segelintir orang. Jangan sampai merusak hubungan antarnegara.”
Potensi Kerugian Ekonomi Miliaran Dolar
Pengamat menilai konflik digital ini bukan sekadar perang komentar biasa. Dampaknya berpotensi besar terhadap ekonomi Korea Selatan karena Asia Tenggara merupakan pasar utama industri budaya Korea.
Indonesia, Malaysia, dan Thailand termasuk konsumen terbesar konten K-pop, drama Korea, hingga produk kecantikan Korea. Jika kampanye boikot meluas, perusahaan hiburan besar seperti HYBE Corporation dan SM Entertainment berpotensi mengalami penurunan pendapatan signifikan dari pasar regional.
Selain industri musik, sektor pariwisata dan ekspor produk budaya Korea juga terancam terdampak jika sentimen negatif terus meningkat.
Pemerintah Korea Selatan Mulai Turun Tangan
Memanasnya konflik ini mendorong pemerintah Korea Selatan meningkatkan perhatian terhadap citra global industri budayanya.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata disebut mulai memantau perkembangan konflik digital tersebut serta menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga hubungan budaya dengan negara-negara Asia Tenggara.
Langkah ini dinilai penting karena sektor hiburan dan pariwisata merupakan bagian utama strategi ekspor budaya Korea Selatan.
Fenomena Solidaritas Digital Asia Tenggara
Di sisi lain, konflik ini memunculkan fenomena solidaritas digital lintas negara Asia Tenggara yang semakin kuat.
Netizen dari berbagai negara ASEAN melakukan kampanye bersama menggunakan humor, satire, hingga berbagai bahasa lokal untuk membalas serangan daring.
Pengamat menilai fenomena ini menunjukkan kekuatan baru komunitas digital kawasan yang mampu memengaruhi opini publik global sekaligus tekanan ekonomi terhadap industri budaya internasional.
Dampak Lebih Luas bagi Hubungan Regional
Jika tidak dikelola dengan baik, perang digital tersebut dikhawatirkan mengganggu kerja sama budaya, pariwisata, hingga perdagangan antara Korea Selatan dan negara-negara Asia Tenggara.
Konflik ini sekaligus menjadi peringatan bahwa dinamika media sosial kini dapat berdampak langsung pada hubungan internasional dan stabilitas ekonomi global. (*)



Komentar