WELLINGTON, BentangNews — Lebih dari 70.000 warga Selandia Baru tercatat meninggalkan negara itu hanya dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Fenomena arus keluar penduduk terbesar dalam beberapa dekade tersebut kini memicu kekhawatiran serius terkait kondisi ekonomi dan masa depan tenaga kerja di negara tersebut.
Meskipun angka tersebut terlihat kecil secara absolut, jumlah itu setara dengan sekitar 1,4% dari total populasi Selandia Baru yang mencapai sekitar 5,1 juta jiwa. Para pengamat menilai tren ini menjadi sinyal penting terkait tekanan ekonomi domestik dan meningkatnya daya tarik negara tetangga, Australia.
Arus Keluar Terbesar dalam Beberapa Dekade
Lonjakan jumlah warga yang meninggalkan Selandia Baru dinilai sebagai salah satu eksodus terbesar dalam sejarah modern negara tersebut. Fenomena ini memicu perhatian pemerintah, pelaku industri, hingga akademisi karena berpotensi mengganggu stabilitas pasar tenaga kerja.
Arus perpindahan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia tertentu, tetapi juga melibatkan tenaga kerja produktif, termasuk profesional di sektor kesehatan, konstruksi, dan layanan publik.
Para analis menilai fenomena ini berisiko memperburuk kekurangan tenaga kerja yang sebelumnya sudah menjadi tantangan bagi Selandia Baru, terutama pada sektor-sektor vital seperti kesehatan dan layanan publik.
Australia Jadi Tujuan Utama
Sebagian besar warga Selandia Baru yang memutuskan meninggalkan negaranya tidak memilih tujuan yang jauh seperti Eropa atau Amerika Serikat. Sebaliknya, mereka lebih memilih Australia, negara tetangga dengan jarak tempuh penerbangan relatif singkat.
Kedekatan geografis, kesamaan budaya, serta kemudahan akses kerja menjadi faktor utama yang mendorong pilihan tersebut. Selain itu, perjanjian khusus antara kedua negara memungkinkan warga Selandia Baru tinggal dan bekerja di Australia dengan prosedur yang relatif mudah.
Australia dinilai menawarkan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan, mulai dari tingkat upah yang lebih tinggi hingga peluang kerja yang lebih luas.
Faktor Ekonomi Jadi Pendorong Utama
Kondisi ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong warga Selandia Baru mencari kehidupan di luar negeri. Perbandingan ekonomi dengan Australia kerap menjadi topik utama dalam pemberitaan media maupun perbincangan publik di Selandia Baru.
Australia memiliki tingkat produk domestik bruto (PDB) yang lebih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil, serta peluang kerja yang lebih luas dibanding Selandia Baru. Kondisi tersebut membuat banyak warga melihat Australia sebagai tempat dengan prospek karier dan kesejahteraan yang lebih baik.
Di media sosial hingga pemberitaan surat kabar nasional Selandia Baru, perbandingan antara standar hidup kedua negara menjadi isu yang sering dibahas, terutama terkait upah dan biaya hidup.
Perbedaan Upah yang Signifikan
Perbedaan tingkat gaji menjadi salah satu daya tarik utama Australia bagi tenaga kerja Selandia Baru.
Sebagai contoh di sektor kesehatan, gaji rata-rata seorang perawat di Australia mencapai sekitar 85.000 hingga 90.000 dolar Australia per tahun atau setara Rp1,01 miliar hingga Rp1,07 miliar, berdasarkan data platform pencarian kerja Seek.
Angka tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pendapatan tenaga kesehatan di Selandia Baru, sehingga mendorong banyak tenaga medis memilih pindah.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan Selandia Baru mempertahankan tenaga profesional penting, khususnya di sektor layanan publik yang membutuhkan tenaga terampil.
Kekhawatiran terhadap Masa Depan Tenaga Kerja
Para ekonom memperingatkan bahwa arus keluar penduduk dalam skala besar dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap perekonomian Selandia Baru. Selain berpotensi mengurangi jumlah tenaga kerja produktif, fenomena ini juga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan tekanan pada layanan publik.
Kehilangan tenaga kerja terampil, terutama di sektor kesehatan dan infrastruktur, dapat memperburuk kekurangan tenaga kerja yang sudah ada serta mempengaruhi kualitas pelayanan publik.
Sejumlah pengamat juga menilai bahwa fenomena ini mencerminkan tantangan struktural yang lebih luas, termasuk tingginya biaya hidup dan keterbatasan peluang ekonomi di dalam negeri.
Pemerintah Didorong Cari Solusi
Meningkatnya arus migrasi keluar membuat pemerintah Selandia Baru menghadapi tekanan untuk meningkatkan daya saing ekonomi domestik. Langkah-langkah seperti peningkatan upah, perbaikan kondisi kerja, dan penciptaan peluang ekonomi baru dinilai penting untuk menahan laju perpindahan penduduk.
Para pakar menilai bahwa tanpa kebijakan strategis yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan peluang kerja di dalam negeri, tren migrasi ke Australia kemungkinan akan terus berlanjut.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana mobilitas tenaga kerja global semakin dipengaruhi oleh perbedaan kondisi ekonomi antarnegara, terutama bagi negara-negara dengan hubungan geografis dan kebijakan migrasi yang relatif terbuka.



Komentar